Monday, March 14, 2005

Sebuah lukisan di kamarku

(Buat A.J.)


Aku mempunyai sebuah lukisan di dinding. Lukisan itu milik Bapakku. Lukisan yang aku tak pernah tahu maknanya waktu masih kecil, karena hanya berupa goresan cat berwarna-warni. Namun seiring berjalannya waktu dan keakrabanku dengan lukisan itu, aku merasakan ada jiwa yang hidup di dalamnya. Ada sesuatu yang ingin diungkapkan oleh garis dan coretan warna-warni itu. Sesuatu yang bergelora suatu ketika, lalu berubah tenang saat berikutnya.

Perlahan tapi pasti aku mulai memahami makna setiap garis dan warna. Aku hapal kapan warna itu menjadi suram dan kapan berubah menjadi cerah. Aku mulai menyelami dan memahami saat-saat terbaik dan terburuk lukisan itu. Aku semakin pandai pula menentukan saat kapan aku ingin menikmati lukisan itu. Biasanya itu sesuai suasana hatiku. Bisa jadi saat matahari bersinar terang di kamarku, atau saat senja hanya meninggalkan sejumput cahaya.

Bukan berarti aku tak pernah menatapinya ketika malam tengah menggerayangi bumi. Sering aku terpaku melihatnya membisu, seakan tidur, disinari lampu neon putih yang menyilaukan di kamarku. Aku tak melihatnya bergerak atau hidup seperti saat mentari menghamburkan cahayanya. Dia sungguh hanya sebuah lukisan. Tapi perasaanku berkata dia tahu aku mengamatinya, mencoba menebak apa yang tengah terjadi dibalik keheningannya.

Ada saatnya aku menyimpan kesedihan yang teramat sangat, lalu aku akan melihat garis-garis gelap pekat yang tergores dalam bidang itu. Apakah itu sisi dimana emosi pelukisnya sedang gelap seperti diriku juga?. Kebalikan dari nyala membara warna-warna terang yang menimpalinya?.

Kamu ingin melihat gelombang perasaan seseorang?. Lihatlah lukisan itu suatu ketika kalau waktu berpihak pada kita. Ada beribu riak dan badai di dalamnya. Persis sama seperti yang terlukis di sana. Walau pun aku tak pernah tahu siapa orang yang melukiskannya.

Friday, March 11, 2005

Dia

Aku menikamNya berulang kali
Sampai hancur segenap tubuhNya
Aku menyiksaNya setiap hari
Tak perduli darah mengucur menganak sungai
Menodai jalanan berdebu.

Luka itu,
Darah itu,
Tak jua membuatku mengerti
Betapa Dia mencintaiku
Dan aku menikamNya kembali
Berulang kali,
Setiap hari.

Neige

Namanya Neige Hapsari. Sungguh nama yang tidak lazim dan merepotkan. Selain susah dibaca oleh kalangan masyarakat dua musim, arti nama itu bertolak belakang benar dengan keadaan dirinya. Paling tidak untuk saat saat ini. Neige menurut ayahnya berarti salju. Tapi tak ada satu jejakpun gambaran Snow White alias si Putri Salju tercetak di tubuhnya. Menurut dongengan gurunya waktu Taman Kanak- Kanak yang tak sepenuh hati dipercayainya, legenda itu bermula ketika seorang wanita berharap bayinya mempunyai kulit seputih salju, rambut sehitam kayu, dan bibir semerah darah. Tak pelak lagi ini merupakan kontradiksi dengan kulitnya yang coklat keemasan, untuk tidak mengatakan hitam, rambut pendek kemerahan sehingga sering dituduh hasil sepuhan salon kecantikan, dan akhirnya bibir kebiruan karena tercemar nikotin.

Kalau nama pertamanya menunjukkan harapan munculnya gadis cantik nan rupawan, lebih-lebih lagi nama keduanya. Hapsari dalam bahasa Jawa berarti bidadari. Ini jelas-jelas kesalahan fatal. Menurut gambaran umum masa kanak-kanaknya bidadari juga putih, malah seluruh tubuhnya bertabur cahaya kemilau. Raut mukanya halus penuh kedamaian, dan tentu saja bebas dosa. Ia heran bagaimana orang tuanya bisa membebankan nama begitu berat di tubuhnya. Untung ia tak sakit-sakitan waktu bayi menanggung beratnya nama yang dimilikinya. Kalau itu terjadi pasti nasibnya masuk lobang sampah seperti Kasmiatun, yang dulunya bernama Kusumaningrum, anak Lik Juminten tetangganya. Menurut cerita tetangganya bayi yang berganti nama harus dimasukkan lobang sampah untuk mengelabuhi roh jahat, seakan-akan bayi itu sudah mati. Lalu dengan serangkaian upacara digantilah nama sang bayi. Hanya yang selalu menjadi pertanyaannya pada Ibunya adalah mengapa nama pengganti itu selalu lebih jelek?. Ibunya marah mendengar pertanyaan itu, sebuah nama tidak pernah jelek, selalu ada makna dibaliknya yang merupakan harapan dari si pemberi nama. Waktu itu ia masih SD, belum mengenal Shakespeare dengan segala ujar-ujarannya. Seandainya Ibunya mendengar apa kata pujangga pujaan dunia sastra barat itu pasti beliau tidak sudi berkata-kata dengannya seminggu lamanya.

Tapi itu bukan satu-satunya hal yang menjengkelkannya. Nama Neige sendiri menimbulkan masalah besar sejak nama itu dipilih sebagai nama panggilan resmi dalam keluarganya. Nama itu pemberian dari teman papanya yang berasal dari Perancis. Setiap guru di sekolah dan teman-temannya adalah anak singkong, sehingga selalu membaca sesuai ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan tentunya: Neige, bukan Neis seperti seharusnya dibaca. Hal itu semakin parah ketika ada kebiasaan memanggil orang dengan satu suku kata saja, maka dipenggallah dua suku kata itu menjadi Ne-Is. Panggilan Ne tentu tak enak didengar, apalagi dalam bahasa Jawa Ne digunakan sebagai kata ganti milik untuk orang ketiga. Maka satu-satunya suku kata yang tertinggal adalah Is. Lalu karena keluarganya memanggilnya Is, beberapa tetangga menganggapnya sebagai kepanjangan dari Iis. Memang hal itu membuat namanya semakin jauh dari asal muasalnya, tapi agak sulit juga menjelaskan hal ikhwal nama pada para tetangganya.

Ketika sampai sekolah lanjutan masalah nama itu tak kunjung usai juga, kakak tertuanya seakan memberinya usul, dikatakan seakan sebab dia tahu benar si sulung itu lebih banyak mengejek daripada memberi jalan keluar, agar dia kuliah di jurusan sastra Perancis saja. Setiap orang di sana pasti tahu bagaimana membaca sekaligus melafalkan namanya secara tepat dan orisinil negeri aslinya. Toh Neige sendiri juga tidak tahu bagaimana sebenarnya pengucapan namanya secara tepat, goda kakaknya.

Namun karena sudah mencurigai niat Elena, dia tak sudi masuk jurusan sastra Perancis. Bukan karena dia tak menyukai budaya negeri Napoleon yang sejarahnya penuh intrik itu, tetapi hanya karena tak mau membuat kakaknya itu menjadi besar kepala. Sebenarnya ia malah mengagumi beberapa figure yang ada dalam khasanah historis bangsa itu. Sebut saja Joan of Arc yang gagah berani tapi malah dituduh tukang tenung, atau Josephine istri sang panglima Napoleon yang menderita ditinggalkan demi perempuan lain. Namun Marie Antoinettelah perempuan yang membuatnya terkesan. Ketika guru sejarahnya bercerita tentang perempuan penuh gegap gempita ini ada pandangan negative mengambang di seluruh kelas. Semua melihatnya sebagai perempuan boros yang menghisap keuangan negara sampai kering. Entah mengapa ia justru merasakan kepedihan dan kesepian amat sangat dalam wajah mungil yang terpampang dalam bukunya. Empat belas tahun usianya ketika harus meninggalkan negerinya untuk dikawinkan dengan seorang remaja juga yang mungkin tak pernah sungguh-sungguh dikenalnya. Hidup di negeri asing, terjebak di tengah intrik politik dan tata aturan kerajaan, dan tentu saja segala affair para lelaki dan perempuan bangsawan. Ia juga empat belas tahun waktu itu, ia tahu benar bagaimana perasaan seorang gadis berusia empat belas tahun.

Pikiran semacam itu tentu dikecam oleh mainstream kelas. Ini bukan pertama kalinya. Dalam hal apapun dia selalu mengambil sisi yang berbeda dari pandangan umum. Bahkan dari kakak-kakak dan orang tuanya. Ini bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, karena sering menimbulkan salah paham. Dahulu sebelum diperkenalkan dengan konsep pemikiran multidimensi kadang ia merasa ada yang salah dalam konsep berpikirnya. Kenapa ia selalu melihat sesuatu secara berbeda dari kebanyakan orang?. Dalam kepolosan dan kebingungan usia remaja tak hanya sekali ia bertanya apakah kepalanya pernah terbentur tembok waktu bayi atau terjadi kesalahan fatal saat ia dilahirkan.

Orang tuanya memang belajar pendidikan tetapi mereka bukan psikolog, jadi reaksi mereka terhadap masalah yang dihadapinya tak begitu serius. Ibunya akan mengomelinya dengan anggapan bertingkah aneh-aneh, sedang ayahnya menyuruhnya memikirkan hal lain yang lebih berguna, mengerjakan PR atau membersihkan rumah misalnya.

Akhirnya agar tetap mengikuti suara jiwanya, dia membelokkan sasaran sedikit ke jurusan sastra Inggris. Sejujurnya ia memang tak punya gairah untuk kuliah selain di fakultas sastra. Ibunya selalu mendorong-dorongnya masuk fakultas-fakultas popular di kalangan orang tua seperti kedokteran, ekonomi, atau teknik. Kalaupun meleset semoga jatuh ke psikologi atau hukum. Maka ketika sepulang sekolah ia mengabarkan kesuksesannya masuk fakultas sastra universitas ternama tanpa ujian, Ibunya tak henti menyesali. Seakan sudah terlihat suramnya masa depan sang puteri. Hanya ayahnya yang tersenyum antusias dan mentraktirnya sate kambing Cak Mansyur depan masjid alon-alon kota.

Bukan salah Ibunya bila merasa kecewa. Keluarga besar mereka penuh dengan dokter, insinyur, dan ahli hukum. Setiap kakak dan adiknya membanggakan anak-anak mereka hatinya pasti gelisah. Seperti halnya para profesional terikat karena kesamaan profesi mereka, para orang tua merekapun merasa senasib dan diikat erat karena kesamaan profesi anak mereka. Lalu keterikatan itu membuat mereka tidak bisa menerima orang lain dengan anak-anak yang memiliki profesi atau kuliah di bidang berbeda. Tak jarang ia melihat ibunya hanya diam di tengah percakapan ramai tentang biaya praktikum yang mahal atau seluk beluk matakuliah dan sistem akademik yang diterapkan oleh jurusan-jurusan popular itu. Memang lebih sering ngawur bahkan fiktif sok tahu, karena mereka hanya mendengar selintas dari anak-anak mereka selebihnya fantasi saja, namun ibunya tak mungkin berbuat apa-apa. Bagi mereka kepandaian seseorang tercermin dari fakultas tempat anak-anak mereka menuntut ilmu. Jadi kalau anak-anaknya kuliah di jurusan sejarah, komunikasi, seni rupa, dan sastra Inggris janganlah turut campur terhadap masyarakat elit intelektual calon priyayi itu, sebab mereka ditakdirkan menjadi golongan buangan yang menduduki posisi sebagai rakyat jelata.

Pernah suatu ketika ibunya membanggakan Elena karena ikut pertukaran mahasiswa ke Eropa selama 2 bulan. Kakaknya itu terpilih selain karena prestasinya juga menguasai dua bahasa asing. Seorang budhenya yang cemburu menanyakan berapa Indeks Prestasi Elena. Ketika ayahnya menyebut 3.83, budhenya itu dengan suara keras berkata,”Wah kalau Wawan kuliah di jurusan sejarah pasti IPnya 4.50!”

“Lho Budhe, IP tertinggi itu 4.00” Selanya.

“Kalau di kedokteran itu ada IP 4.50. Kamu kan masih SMA, belum tahu!. Itu tanya Mas Wawan kalau gak percaya. Iya kan Wan?”

Ia siap berbantahan dengan budhenya, tapi Ibunya telah memelototkan mata sehingga bibirnya langsung terkatub. Dulu ia heran mengapa orang tuanya yang sama-sama guru tak pernah berbantahan dengan para budhe atau pakdenya bila mereka bicara ngawur masalah pendidikan, namun suatu ketika ayahnya berkata bahwa mendebat orang yang merasa dirinya mengerti itu hasilnya hanya debat kusir. Apalagi mereka berkumpul di tempat eyang kan untuk arisan keluarga, bukan saling berbantahan.

Kelihatannya Ayahnya memahami perasaan putri-putrinya, begitu mereka telah mahasiswa boleh absen hadir di acara keluarga, memang harus bergiliran bolosnya, tapi cukup lumayan juga, mereka hanya harus setor wajah empat bulan sekali. Namun khusus buat dirinya bolehlah tidak muncul setahun penuh, selalu ada kakak-kakak yang dipaksa menggantikan kehadirannya.

Sejak kecil ia tahu telah menjadi kesayangan orang tuanya, bukan sekedar anak bungsu, tetapi karena badannya kurus kering dan terkesan ringkih. Menurut Ibunya akibat kekurangan ASI dimasa bayinya. Ibunya masih merasa bersalah harus menyapihnya sebelum genap satu bulan karena air susunya tak mau keluar lagi. Mungkin untuk mengobati perasaan itu orang tuanya lebih memperlonggar segala aturan yang mereka terapkan pada kakak-kakaknya. Tak sekali mereka melayangkan protes atas privilege yang diterimanya, tapi seperti biasanya nasib para saudara tua, mereka harus mengalah pada yang lebih muda.

Sebagai anak bungsu ia menikmati betul hidupnya. Orang tuanya tak pernah membebankan target tertentu selama bersekolah. Ranking sepuluh atau empat puluh tak pernah mengakibatkan pemotongan uang saku atau larangan keluar rumah, apalagi omelan selama berjam-jam di ruang tengah. Tak ada pemeriksaan PR atau wajib membawa pulang kertas hasil ulangan seperti lainnya. Ia bisa saja menonton TV sampai larut malam sambil memangku buku pelajaran. Malah sejak TK ia telah memproklamirkan karpet di depan TV sebagai ruang belajarnya. Orang tuanya pasti tahu matanya lebih sering tertuju ke layar gelas itu daripada halaman bukunya, tapi menurut pembicaraan yang sering didengarnya mereka sudah merasa bersyukur dia selalu naik kelas, walaupun hanya menempati posisi papan tengah agak kebawah. Suatu posisi yang mustahil dimaafkan bila menimpa ketiga kakak perempuannya.

Disinilah kebijaksanaan orang tua sering lebih tepat dari sekedar bersikap adil terhadap semua anaknya. Ia memasuki fakultas sastra dengan kepala tegak dan tak terkena bayang-bayang nama besar Elena. Tak seorangpun, terutama dirinya sendiri, menuntutnya berprestasi gemilang seperti kakak sulungnya. Ia membayangkan bila Lupita atau Netaya yang kuliah di sana, niscaya mereka akan berupaya menyaingi kegemilangan pendahulunya.

Elena adalah teladan yang baik, ia tak pernah memungkiri itu. Namun ia punya dunianya sendiri. Sebuah dunia yang dicintainya. Netaya adalah gambaran sempurna kecantikan ideal seorang wanita, namun ia tidak ingin mendapat anugerah mahkota dan selempang kontes putri-putrian di bahunya. Dan Lupita adalah artis jenius keluarga, tapi ia tahu kakaknya memang satu-satunya makhluk dalam keluarga besar mereka yang secara ajaib memiliki darah seni yang membuncah tak terkira.

Ia adalah Neige Hapsari, anak bungsu yang punya nama panggilan menjengkelkan, namun punya segudang previlage dan tak pernah jadi kambing hitam. Ia Neige Hapsari yang selalu mempunyai dunia penuh warna, tanpa kawan tanpa lawan. Ia Neige Hapsari yang untuk pertama kalinya merasa bebas dari belenggu dunia lampaunya.

Sesal

Suara percakapan di ruang tamu semakin riuh. Gelak tawa bersahut-sahutan mewarnai setiap alur pembicaraan. Kelihatannya semua orang merasa sangat senang. Sebutan-sebutan akrab kian sering terdengar. Tak sampai sepenggorengan pisang lamanya mereka seakan telah jadi saudara.

Ia membalik pisang raja yang tengah digorengnya. Warnanya kekuningan indah sangat sesuai dengan bau harum yang terpancar keluar bercampur sangit kayu bakar dalam tungku. Ditekan-tekannya sebentar potongan kuning itu agar terbuka seperti kipas. Tepung bercampur telur pasti membuat pisang ini bertambah lezat.

Ditinggalkannya belanga. Diambilnya empat gelas beserta tatakan. Diraihnya toples berisi kopi dan gula. Dimasukkannya masing-masing dua sendok makan penuh kopi dan satu sendok makan peres gula. Kurang dari itu akan menyebabkan kopi terasa encer seperti kopi pabrik yang sering dimunculkan dalam layar gelas.

Langkahnya kembali ke tungku. Diangkatnya cerek besar hitam penuh jelaga. Dituangkannya air panas ke dalam empat gelas besar itu sampai masing-masing mencapai bibir gelas. Kurang dari itu akan dianggap pelit dan tidak menghargai tamu. Satu gelas agak miring letaknya. Sepercik air kopi membasahi tatakannya. Segera saja ia mengangkat gelas itu dan membersihkan noda di atas beling putih berbunga-bunga itu dengan roknya.

Tirai kain merah hati yang menyekat ruang tengah dan dapur terkuak. Ibunya melongokkan kepala. Masih dengan raut berbiaskan senyum matanya menatap tajam ke arahnya. “Sudah?”

“Tinggal mengangkat pisang saja” gumamnya.

Wajah itu kembali menghilang dengan peringatan agar hidangan segera dikeluarkan. Ia tak menjawab. Tangannya sibuk memindahkan keempat gelas kopi ke atas nampan. Dijajarnya menjadi dua baris agar cukup tersedia tempat untuk dua piring pisang goreng.

Nampan kaleng berbunga itu terasa berat di tangannya. Ia menyingkap tirai dengan bahunya menuju ruang tamu. Keriuhan itu mendadak senyap ketika ia memasuki ruangan. Dua orang lelaki yang duduk menghadap pintu kamar tengah menghentikan gelaknya walau masih menyunggingkan tawa. Orang tuanya hanya meliriknya seakan menilai apakah tepat caranya melayani tamu kehormatan mereka.

“Salam sama Cak Munari, Wur!” kata ayahnya tegas.

Diletakkannya nampan di meja. Masih tetap menunduk diulurkannya tangan pada lelaki berkulit gelap yang tengah menatapnya tanpa berkedip.

Jemari mereka bertaut. Ia merasa tangannya lepas dari tubuhnya. Ada rasa ngeri melihat betapa tangan besar dan kasar bergelang akar bahar itu menenggelamkan miliknya. Jantungnya turut berdebar keras ketika remasan itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Seakan tangan itu menelanjangi dan menyentuh sekujur tubuhnya.

Cepat-cepat ia berpaling dan setengah berlari masuk kembali ke balik tirai. Tak dihiraukannya perintah Ibunya untuk menyalami juga tamu yang duduk di depan ayahnya.

“Maaf, ia masih pemalu.” Ibunya berkata dengan nada bangga, seakan sikap malu adalah identik dengan kemurnian.

Tahu apa mereka tentang perasaannya?. Jantungnya masih berdebar kencang Masih terbayang tangan kasar yang meremas tangannya. Matanya terkatub membayangkan niat yang terbaca dari genggaman itu.

Ia terduduk lemas di kursi kamarnya. Dari balik dinding kamarnya ia mendengar jelas maksud kedatangan Munari membawa dua kambing kacang ke rumahnya. Ia juga mendengar betapa senang orang tuanya ketika lelaki itu berjanji untuk sering datang menjenguk Dik Wuryani.

“Beruntung benar Wur,” ujar Ibunya saat makan malam, “Belum apa-apa sudah dua kambing mengisi kandang. Besok mungkin beberapa ekor itik atau ayam jago kegemaran Bapakmu.”

Ia diam menunduk. Hanya tangannya yang bergerak-gerak gelisah mengusapkan rebusan bunga turi ke dalam cobek sambal terasi. Pedas sambal membakar lidah dan bibirnya seperti kemarahan bercampur rasa takut yang mulai mencengkeram hati dan pikirannya.

“Kau harus siap. Mungkin bulan depan sudah ditentukan tanggalnya.”

Tubuhnya menggigil sesaat. Bukan karena keringat yang mengalir deras di sekujur tubuhnya, namun didera kegamangan hatinya mengetahui harapan yang terpancar jelas di mata orang tuanya.

Sambil menekan dadanya yang terasa sesak ia membereskan piring-piring makan malam. Diangkutnya alat makan dari kaleng itu ke sumur di belakang rumah. Sinar bulan menggantikan lampu minyak yang biasanya dipasang di samping pintu. Lagipula malam ini ia tak butuh penerangan. Airmata deras menetes membasahi kedua pipinya.

Isaknya teredam suara kelontang piring saling berbenturan. Pikirannya melayang pada Darmono tetangga kampungnya. Lelaki itu telah secara sembunyi-sembunyi menjalin hubungan begitu indah dengannya lima belas bulan ini.

Darmono yang pendiam dan rajin membajak sawah Haji Mansyur telah mencuri hatinya sejak pagi hujan lebat membuat mereka berteduh di emper SD yang telah penuh lubang eternitnya. Lelaki yang jarang berbicara itu menjerat hati perawannya dengan senyum tipis dan pandangan penuh makna.

Saat tengah hari itu semua terjadi. Penuh kepolosan dan rasa ingin tahu ia menjelajahi dunia yang asing dan mendebarkan bersama Darmono. Kepak burung bangau dan desiran angin seakan lenyap dalam dunia yang serba baru dan mempesona itu. Rasa sakit bercampur kebahagiaan membuat wajahnya berhias senyum. Senyuman yang tak pupus selama berbulan-bulan sampai kedatangan Munari.

Desiran angin malam membuatnya tersadar dari lamunan di depan sumur. Sungguh hatinya nyeri oleh kerinduan akan dekapan hangat tangan-tangan kuat untuk menghilangkan kegundahan ini. Telah seminggu mereka tak memadu kasih. Telah seminggu pula mereka tak berkabar.

Diusapnya tangan yang basah dengan lap kumal di sudut balai-balai bambu. Debum langkah kakinya yang berat terdengar riuh di malam yang tenang. Kegalauan kembali mencengkeram hatinya membayangkan suatu hari di bulan depan segala kebanggaan orangtuanya akan hancur. Tak kan ada lagi raut wajah penuh bangga dan percaya diri ayahnya. Tak mungkin lagi tergambar keanggunan penuh martabat ibunya. Tak mungkin ada tiga ekor kambing kacang, itik, apalagi ayam jago kegemaran ayahnya. Ia telah menjatuhkan pilihannya, bahkan sebelum orang tuanya sempat memberikan pilihan untuknya.

Dipandangnya foto yang terpasang di dinding bambu. Ayah dan ibunya duduk berdua di kursi plastik berpakaian pesta. Ia berdua adik lelakinya berdiri di belakang mereka. Foto buram hasil bidikan tukang foto keliling itu diambil seminggu silam menjelang pesta kawin saudara sepupunya. Siang dimana ia bertemu pertama kali dengan Munari.

Perlahan, sungguh sangat perlahan ia membuka lemari pakaian. Ditariknya dua potong baju, celana dalam, dan kutang. Disesakkannya benda-benda itu dalam tas plastic bergambar bintang film India. Di otaknya telah terlukis sebuah rencana.

Malam semakin pekat. Deru angin menggoyang-goyangkan segenap dedaunan. Perlahan, sungguh sangat perlahan ia tenggelam ke dalamnya.

Jentera

Dua belas tiga dua malam. Ia membuka pintu kamarnya. Diletakkannya kunci mobil di atas meja sudut antara patung gadis petani dan kincir angin kayu buatan Belanda. Seperti beratus hari sebelumya mungkin ia akan lupa letak kunci itu esok pagi, tapi ia tak perduli.

Jarum jam terus berdetak. Ritual harian menjelang tidur dimulai. Melepaskan baju kerja dan menggantungkannya di belakang pintu. Meletakkan sepatu di rak kecil dekat jendela, serta tas kecil di atas meja serbaguna.

Gerakan yang sama setiap malam, langkah yang sama pula. Begitu teratur, dengan presisi yang nyaris sempurna, seperti hitungan langkah di lantai dansa.

Masih setengah telanjang dibukanya almari berpintu ganda. Diambilnya kaos dan celana pendek pada tumpukan teratas. Tak semilipun tumpukan itu bergeser. Ia tak pernah mengacaukan susunan dan jenis isinya. Tak ada pakaian dalam terselip atau stocking kehilangan pasangannya. Kekacauan bukan ritmenya.

Lalu langkahnya menuju meja rias. Dinyalakannya lampu kecil bergagang puteri raja a la Eropa abad pertengahan. Seketika wajahnya terpantul jelas di bidang kaca. Sebuah wajah dengan dandanan yang telah luntur, mata redup menahan kantuk, dan gurat-gurat kelelahan di pangkal hidung.

Tangannya meraih botol kaca. Menadahkan telapak untuk menampung cairan yang meleleh keluar dari bibir botol, menyentuh dengan ujung jari, lalu dioleskan perlahan pada kedua pipi, dahi, dan dagunya. Jari-jari itu terus menari seakan ada irama yang mengiringi gerakannya.

Krim pembersih menghapus semua sisa bedak yang ada. Matanya berjalan menurut pola yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Seakan ada sebuah rute yang harus selalu dijalani. Ia tahu akan menemukan sedikit kerut di kening dan sudut mata. Juga noda-noda hitam di pipi dan ujung hidungnya. Bibirnya masih lembut dan kenyal, namun garis-garis samar mulai muncul di ujungnya.

Sambil menghela napas diambilnya sisir tanduk dalam laci. Perlahan disisirnya rambut sebahu miliknya. Tangannya bergerak dari pangkal ke ujung dengan durasi dan kecepatan yang teratur. Bagian demi bagian, dari atas ke bawah. Lalu dibungkukkannya tubuh menunduk ke lantai, mulai disisirnya kembali bagian per bagian, dari atas ke bawah, dengan gerakan yang sama, ritme yang sama pula. Seperti ratusan malam lain, ia akan berhenti ketika helaian-helaian itu telah halus dan melayang jatuh terburai di bahunya.

Malam beranjak pagi, ia bangkit menuju tumpukan bantal beralaskan seprei biru putih. Kain halus itu terasa sejuk di punggung dan tengkuknya. Lalu matanya mengatup perlahan, seiring desah lirih dari bibirnya.
Dalam kesenyapan malam jantungnya berdetak teratur. Begitu juga aliran darahnya. Ia merasa mendengar alunannya ketika memasuki bilik jantung, dipompa keluar dengan tekanan yang berirama, lalu mengalir kembali di sekujur tubuhnya. Darah itu mengalir terus ke arah otaknya, melewati jutaan rongga-rongga, berliku dalam setiap lekukan dan kelokan syarafnya.

Ia merasakan paru-parunya mengembang dan mengempis seirama desah nafasnya. Oksigen yang terhirup dan karbon dioksida dikeluarkan secara bergantian melalui hidungnya. Mengalir teratur seiring gerakan kedua paru-parunya.

Semua teratur, tak pernah meninggalkan iramanya. Bahkan mimpinyapun selalu mempunyai pola yang sama. Ia tak pernah tahu membedakan mimpi satu dengan lainnya, bukankah ia selalu melayang dalam labirin yang sama?.

Waktu terus berjalan. Pagi mulai menyingkirkan malam. Seperti ratusan malam yang lain beberapa saat setelah bandul jam berdentang dua kali ia akan mendapat pesan. Satu baris yang sama, sampai dia tak harus membuka mata untuk membacanya. Bukan karena satu baris itu tanpa makna, namun justru dia menganggap lebih dari satu baris akan menghilangkan artinya.

Pesan itu masuk saat gema dentang jam hampir lenyap. Diraihnya benda kecil itu dan dipencetnya sebuah tombol untuk menghentikan bunyinya. Ia membuka matanya sesaat, menguak kaburnya pandangan karena kantuk yang memberati sekedar menatap benda di tangannya, lalu dengan jaya memasuki alam bawah sadar yang ia sadari akan sama setiap harinya.

Mendadak ia tahu sedang melangkah di jalan yang tak biasanya. Ia tidak mengenali warna, suara, bau, dan rasa di sekelilingnya. Semakin jauh melangkah, semakin terasing dia. Ini bukan mimpinya, ini bukan alam bawah sadarnya, ia tak mengenali setiap pola dan bentuknya.

Jantungnya tidak lagi teratur berdetak, darahnya deras mengalir terpompa oleh debaran yang kian cepat. Jutaan rongga di kepalanya tersentak oleh derasnya riak gelombang menumbuk dinding yang selalu jernih dan tenang.

Lentingan kejutan itu memacu dua paru-parunya mengembang dan mengempis semakin kerap, menggapai-gapai udara memasukkannya semakin cepat, membuangnya bahkan lebih cepat lagi. Membakar dadanya, mengeringkan kerongkongannya, dan memaksa tubuhnya mengeluarkan leleran keringat dari setiap liang pori-porinya.

Apa yang salah dengan tubuhnya? Mimpinya? Alam bawah sadarnya?. Mengapa semua memberontak melawan dirinya?. Ia merasa telah berjalan selaras dengan mereka selama ribuan hari, dan akan selalu melangkah seperti itu ribuan hari lainnya.

Tiba-tiba ia merasa semakin lemah, semua gerakan tak beraturan itu membuatnya jatuh, perlahan tapi pasti ia terhanyut arus deras. Terseret tak menentu. Menjerit dan merintih. Melolong dan memaki. Perlahan tapi pasti ia semakin kehilangan diri.

Dirabanya dadanya yang berhenti berdetak dan semakin dingin. Dibukanya dengan paksa sekat yang menutup hatinya. Ia terperanjat, yang ditemuinya hanya lorong sepi dan dingin. Tak ada gerakan dan denyut. Tak ada cahaya dan warna.

Disentuhnya hatinya dalam kegelapan. Telah membeku dan mengeras seperti balok-balok es abadi di kutub. Entah telah berapa ribu hari ia menjadi beku di balik dadanya. Entah kapan ia berhenti berdenyut menghangatkan jiwanya. Entah bagaimana ia padam untuk mencerahkan dan mewarnai hari-harinya. Untuk pertama kali ia menyadari telah membunuh dirinya sendiri. Ia membunuh jiwanya, cahaya hidupnya.

Sedu sedan meluncur dari mulutnya, terlarut bersama air yang mengalir deras dari kedua kelopak matanya.

Ia melihat dirinya yang tidur terlelap, begitu tenang mengarungi malam. Pesan tengah malam itu masih tergenggam erat di tangannya. Ia ingat tak harus membuka mata untuk membacanya. Namun sekarang ingin sekali dia membacanya sungguh-sungguh untuk pertama kalinya.

Ia tercekat. Pesan itu bukan sebaris pesan biasa. Ia melihat ribuan pelangi terjalin dalam setiap hurufnya. Ia merasakan kehangatan sinar mentari pagi menyelubunginya.

Lalu ditatapnya lorong-lorong di depannya. Betapa lengang dan mati. Bagaimana mungkin dia sanggup membalas keindahan pelangi dengan kegelapan ruang-ruang kosong ini?.
Ia duduk tersungkur mencoba memeluk dan menghangatkannya. Namun usaha itu sia-sia. Hatinya telah membatu, ia hanya tinggal raga mekanis yang berjalan mengarungi ratusan hari-hari. Ia kehilangan hakekat sebagai manusia.

Lengking penyesalan menggema di seluruh sanubarinya. Kini ia telah kehilangan dirinya, dan akan kehilangan belahan hatinya.

Digapainya seutas kehangatan yang tersisa dari sederet pesan yang digenggamnya. Dipeluknya erat sisa-sisa harapan diujung-ujung jemarinya. Ia tak ingin menjadi wadah kosong, ia ingin memiliki rasa hangat yang akan selalu menyinari deretan pesan-pesannya. Ia ingin kembali menjadi manusia.

Gelombang itu keras menghantamnya. Aliran darahnya semakin menggila, paru-parunya meledak berkeping-keping membelah tubuhnya. Meninggalkan aliran air dari kedua kelopak mata dan liang pori-pori di sekujur tubuhnya.

Kegelapan datang menjemput. Tangannya masih menggenggam sebaris pesan tengah malam. Itu memang bukan deretan pesan yang telah dibaca ratusan malam sebelumnya. Itu memang pesan yang dijalin dengan ribuan pelangi pada setiap hurufnya. Itu memang pesan yang melenyapkan rasa dingin di dada.

Pertama kalinya setelah ratusan hari keterikatan mereka, ia terbangun sebelum fajar merekah. Digenggamnya erat pesawat penerima pesannya, bukan mengirimkan balasan, melainkan menghubungi sebuah kota di belahan dunia yang berbeda.

Sebaris kata keluar dari bibirnya yang gemetar, “ Aku mencintaimu dengan segenap hatiku.”

Pucuk-pucuk Pohon Tembakau




Fajar tengah menjelang. Suara kokok ayam bersahutan menerobos dinding bambu yang telah melengkung bergelombang didera waktu. Ia membuka mata sesaat, kelopaknya masih berat digayuti kantuk. Namun telinganya sudah bersiaga menangkap segala suara dan gerakan yang terjadi disekitarnya.


Ia tahu ibunya telah mulai memasak di dapur. Terdengar keretek kayu setengah basah bercampur suara benturan timba kaleng di bibir sumur. Tak berapa lama kemudian harum seduhan kopi menguar menembus lembabnya udara pagi, memberikan kesegaran ke dalam kamarnya yang pengap. Matanya kini mulai terbuka, bau khas ikan asin yang tengah digoreng begitu merangsang bagi perutnya yang hanya diisi sepotong kue basah murahan yang dibelinya di terminal semalam. Ia tahu nasi jagung yang dicampur sedikit nasi putih tengah mengepul di wadah bambu kecoklatan. Kemarin malam ia melihat tumpukan daun singkong di atas kotak karton bekas tempat mie instant, berarti pagi ini sayur daun singkonglah yang akan terhidang. Mungkin bersama terung goreng dan sambal terasi. Bisa jadi ditambah seiris dua tempe goreng. Ini hari cukup istimewa, kunjungannya yang pertama setelah setahun merantau ke kota.


Derit dipan beralas bambu mengiringi dentingan lumpang besi. Kelihatannya dibutuhkan lebih banyak bubuk kopi untuk beberapa hari kedepan. Kopi buatan pabrik tak begitu diminati di sini. Ibunya seperti juga sebagian besar penduduk di kampung ini lebih suka membeli biji kopi lalu mencampurnya dengan sisa nasi yang sudah dikeringkan. Dua bahan itu disangrai menggunakan kuali khusus agar tidak mempengaruhi aroma. Setelah kopi menghitam, dituangkan ke dalam lumpang besi dan ditumbuk sampai halus. Ayakan dan tampah bambu telah menunggu untuk menyaring bubuk halus itu. Setelah selesai bubuk kopi itu akan disimpan ibunya dalam toples bekas tempat permen yang dibelinya di pasar.


Semakin siang suara di luar semakin beragam. Burung-burung mulai berkicau bersahutan. Lenguh kerbau membaur dengan embikan kambing yang berderap keluar kandang. Tak berapa lama terdengar percakapan ditimpal deburan berirama orang sedang mandi. Rengekan anak-anak yang kedinginan bersahutan dengan kejengkelan orang tua mereka menyuruh mandi.


Disibakkannya kain batik hitam putih yang menjadi selimutnya. Sejenak ia menguap sebelum duduk melamun di bibir dipan. Dalam kaca yang buram terpantul bayangan dirinya. Neon lima watt di atas kepalanya tak cukup terang untuk menunjukkan secara jelas roman mukanya.


Setelah menuntaskan lamunan di awal harinya ia beranjak turun dari dipan dan berjalan menuju jendela kayu bekas peti kemas. Dibukanya gerendel besi yang telah berkarat. Walaupun telah pergi setahun lamanya ia masih ingat untuk mengangkat sedikit palang kayu yang membentang di tengah jajaran papan itu sebelum mendorong sekuat tenaga. Ibunya bilang Lik Mul kurang senter, lurus maksudnya, mengukur tinggi jendela itu, sehingga sisi bawah dan atas berbeda, walhasil diperlukan gerakan ekstra untuk membukanya. Ia tak ambil pusing perkara ini, ia tak tahu seluk beluk tukang kayu. Sudah sangat lumayan Lik Mul mau meluangkan jadwalnya yang padat, sebagai satu-satunya tukang kayu di desanya, dengan upah dibawah minimal.


Bau tanah basah menyerbu hidungnya. Dihirupnya kesegaran itu dalam-dalam. Telah setahun ini setiap bangun pagi ia hanya mencium bau got busuk, asap rokok bercampur wangi kosmetik murahan, dan keringat yang juga berbau parfum murahan. Kadang ia berpikir bisa jadi paru-parunya telah dimasuki kuman TBC seperti Lik Poniti, namun pikiran itu dibuangnya. Kalau berpikir tentang penyakit yang mungkin masuk ke tubuhnya, pasti tak hanya TBC. Sekujur badannya mungkin telah menjadi sarang berbagai penyakit.


Suara percakapan di dapur menghentikan usahanya yang rakus untuk memasukkan lebih banyak lagi udara segar ke dalam paru-parunya. Ia berjalan kembali ke dekat ranjang dan membuka tiga kantong plastik besar yang dibawanya dari kota. Diambilnya beberapa barang yang sering dilihatnya melalui iklan TV di saat senggangnya. Shampoo yang bisa membuat rambut hitam legam lurus panjang, sabun cair harum dalam botol indah, sabun cuci piring berbau jeruk, parfum ruangan yang tinggal disemprotkan. Sebenarnya ia ingin juga membeli obat pel lantai untuk membuktikan lantainya bisa berkilat-kilat seperti kaca, sayang sekali rumahnya berlantai tanah. Hanya ruang tamu saja yang disemen kasar, itupun telah dikotori oleh tanah dan lumut di sudut-sudutnya.
Dibawanya barang itu ke dapur bersama sekaleng biscuit, gula, teh, susu kaleng, dan sebuah sandal plastik model terbaru. Suara langkahnya terdengar riuh karena klompen kayu buatan Jawa Barat yang dikenakannya.

Kedatangannya membuat suara percakapan yang tadi cukup keras berubah menjadi bisik-bisik, lalu begitu tubuhnya mencapai pintu dapur percakapan itu telah terhenti. Dua orang yang duduk di atas dipan beralas bambu itu menoleh ke arahnya. Rupanya Ibunya dan Lik Siti sedang mengobrol sambil mengayak tepung.
Mereka menatapnya lekat-lekat. Ibunya tentu terkesan dengan rambut lurus panjang berponi milik anaknya. Belum lagi celana pendek berwarna merah muda dan kaos tanpa lengan bergambar bintang film barat berwarna hijau pupus. Ia sudah tinggal di kota, seperti inilah pakaian tidurnya setiap hari.


Ia tahu pandangan Lik Siti terarah pada kalung tipis berbandul hati yang melilit lehernya. Tidak ada kalung model seperti ini di desa. Penjualnya bilang ini model baru, rantainya model Taiwan. Karena suka, ia beli juga seuntai gelang pasangannya. Kini kedua perhiasan itu bersinar memantulkan nyala api dari tungku.


“Anakmu sudah jadi juragan, Yu” kata Lik Siti begitu ia menyerahkan oleh-oleh pada Ibunya.


Perempuan itu tak berkata apa-apa, hanya bibirnya menampakkan sebuah senyum bangga.


Ia beranjak pergi. Lik Siti yang masih terkagum-kagum pada sandal baru Ibunya menghentikan langkahnya.


“Mau ke mana kamu Yah?” Tanyanya.


“Mandi.”


“Lho, kenapa terburu-buru. Ini masih pagi.”


“Mau pergi ke rumah Lik Senawi.”


“Wah, pasti mengantar oleh-oleh ya?”


Ia tak menjawab. Langkahnya menuju ke belakang rumah tempat kamar mandi sederhana terletak. Ia mengangkat pintu dari bambu lalu menyandarkannya untuk menutupi dinding yang terbuka. Disampirkannya pakaian dan pakaian dalamnya di dinding anyaman itu lalu mulai mengguyur tubuhnya dengan air. Ia harus mandi cepat-cepat karena kamar mandi ini untuk empat keluarga, sekarang sudah ada yang berdiri mengantri di balik pintu dengan gayung plastik berisi perlengkapan mandi dan handuk melilit leher.


Jam pinjaman dari Rosniah yang melingkari pergelangan tangannya telah menunjuk angka delapan ketika ia pamit pergi pada Ibunya. Disusurinya jalan setapak menuju desa tetangga. Kiri dan kanan jalan penuh tanaman tembakau yang subur. Tak berapa lama lagi masa petik akan tiba. Seluruh penduduk desa akan terlibat dalam pemrosesan tembakau itu sampai diangkut oleh para tengkulak dari kota.


Ia mengintip gudang berdinding anyaman daun kelapa. Sekarang masih kosong, hanya ada beberapa bal jerami teronggok di lantainya. Namun tak lama lagi gudang ini akan penuh dengan para wanita dan anak-anak yang ikut serta menguntai daun tembakau pada bilah-bilah bambu yang telah diruncingkan. Tangan mereka terampil mencoblos daun tembakau menggunakan kaleng yang dibentuk kerucut. Mereka berlomba mengumpulkan hasil sebanyak-banyaknya agar memperoleh upah yang lumayan untuk dibawa pulang. Lalu para lelaki akan terlibat dalam pengopenan daun-daun itu sampai kecoklatan dan siap diambil para tengkulak.


Sungguh aneh, pikirnya geli, dulu ia sering ikut menjadi buruh penguntai daun tembakau, namun tak sekalipun tahu bagaimana rasa tembakau itu. Sekarang hidupnya telah jauh dari gudang-gudang daun tembakau, tapi justru setiap hari ia menghabiskan berbatang-batang rokok. Kadang saat merokok ia bertanya-tanya apakah tembakau yang tengah dihisapnya ini hasil kerja tangannya?.


Ditatapnya kuku jari-jari tangannya yang telah dicat merah menyala. Dulu tangan ini kotor dan kulit jari telunjuknya berbarut-barut hitam karena terlalu sering menggunakan pisau dapur. Kini kulit itu halus karena pekerjaannya tak berhubungan lagi dengan mengiris bumbu-bumbu dan menguntai daun tembakau. Dahulu uang yang diterimanya hanya lembaran-lembaran biru kumal tertulis angka satu dan nol tiga. Paling kalau Pak Mandor Jakin tertangkap basah melirik pahanya yang sedikit tersingkap dia akan menambahi selembar kertas hijau kecoklatan tertulis angka lima dengan nol tiga di belakangnya.


Bibirnya mencibir. Mandor Jakin dan pemuda-pemuda yang dulu mengejarnya hanya akan memberinya lembaran-lembaran biru itu. Mungkin bahkan menghabiskan lembar-lembar itu sebelum sampai ke tangannya. Mereka hanya akan membuatnya menjadi buruh yang harus membereskan rumah dan budak pemuas nafsu mereka setiap malam tanpa imbalan. Mereka bahkan masih akan menuntut uang rokok setiap harinya seakan merekalah yang dimanfaatkan olehnya hingga menuntut imbalan atas jasanya. Asap rokok mereka sama pengapnya seperti yang selama ini dihirupnya. Bau keringat mereka juga sama kecut dan memuakkan seperti yang selama ini masuk ke lubang hidungnya.


Lihatlah dirinya sekarang. Telah ada seuntai kalung dengan rantai model Taiwan tergantung di lehernya. Gelang melilit pergelangan tangannya. Pakaian yang dulu hanya dikenalnya melalui TV di kelurahan kini membungkus tubuhnya. Lebih membanggakan lagi tiga kantong plastik berisi oleh-oleh dari kota.


Ia tidak menyesal meninggalkan desa. Kemelaratan dan pelecehan yang selama ini diderita Ibunya akan berakhir. Di benaknya telah muncul gambaran oleh-oleh yang harus dibawa pulang tahun depan. Paling tidak sebuah radio atau tape recorder. Mungkin juga sebuah TV dengan salon-salon yang besar seperti milik Pak Dukuh. Bagaimana kalau satu set sofa baru?.


Langkahnya telah mendekati pagar rumah Lik Senawi. Sambil tersenyum simpul angannya sampai pada pelaut asing yang kini sering mengunjunginya. Lembar-lembar kertas kuning kehijauan dengan plastik merah kecil itu tergambar jelas di matanya.

Aku dan Bayanganmu

Aku mengenalmu tanpa nama,
tanpa wajah,
tanpa tubuh,
tanpa arah.

Aku berbagi cerita denganmu tentang,
hidupmu,
hidupku,
masa lalu dan masa depan

Aku mencintaimu,
segenap hatiku,
tanpa terhalang ruang dan waktu,
dahulu, sekarang, dan akan datang